Rabu, 14 September 2011

NOON STORY 1 (Burung Gereja)

Panas terik matahari di luar sana menyelinap masuk di kamarku, ruang kos-kos-an 3 x 2 meter yang beraroma pengharum ruangan rasa jeruk :)
Setelah selesai meneguk satu botol air mineral 250 ml, aku mulai merapat ke laptopku yang sudah menunggu untuk dibelai-belai keyboardnya..
Dengan sesekali nada sms "thung" yang menjadi musik alami siang ini, beberapa sms dari pacar dan teman aku masuk memenuhi kapasitas memory di hapeku..
kali ini, aku ingin menceritakan apa yang tadi sempat aku ingat ketika aku perjalanan ke sini, sebuah kenangan masa lalu, dimana aku waktu itu masih sangat kecil untuk kehilangan sesuatu yang paling aku sayangi..
dulu, ketika aku masih kecil, ketika jakun ini belum se-menonjol sekarang, ketika bulu-bulu ketek aku belum keluar dan ketika aku masih belum di sunat, aku sempat mempunyai "sesuatu" yang begitu aku sayangi..
"sesuatu" itu adalah se-ekor burung gereja kecil yang aku temukan di bawah pohon yang ada disekitar rumah kakekku.. Ketika aku temukan, burung itu terlihat begitu lemah, begitu tak berdaya, dan mungkin dia baru beberapa hari menghisap oksigen bersama mahluk tuhan yang lain di bumi ini setelah sekian lama dia bertapa di dalam cangkang telurnya..
tidak ada yang spesial dengan burung gereja itu, hanyalah burung gereja biasa.
Hatiku mulai iba ketika melihat dia terkapar tak berdaya diatas tanah yang kering, seakan-akan dia memanggil-manggil namaku, seakan-akan dia meninta bantuan ku untuk sekedar mengangkatnya dari tanah dan mengembalikannya ke sarang, tempat di mana dia seharusnya berada.
Namun entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku malah membawanya kedalam rumah kakekku, mulai kubersihkan bulu-bulunya yang kotor, dan aku mulai mencoba untuk menjadi "ibu"nya..
Langsung aku ambil satu buah kerdus bekas jajanan pengantin, lalu aku kasih gombal diatasnya, aku sedang membuat sarang untuk burung gereja malang itu..
5 menit kemudian, sebuah sarang dari kardus bekas telah jadi, dan aku pun mulai menaruh burung gereja yang malang itu kedalam sarang buatanku. Kuamati dia dengan seksama, dia terlihat begitu nyaman disana, mungkin dia berpikir bahwa itulah tempat terempuk nomor 2 setelah sarangnya.
--------
beberapa hari berselang, burung gereja itu kini sudah mulai membaik keadaannya. Dalam beberapa hari yang lalu aku memberinya makan berupa menir atau dalam bahasa indonesianya adalah beras yang kecil-kecil. Ketika aku suapkan ke paruhnya, dia terlihat begitu nyaman, mungkin tanganku ini sudah di anggapnya sebagai paruh ibunya dulu.
aku senang dengan keadaannya yang mulai membaik, dan semoga dia bisa segera terbang bebas sesegera mungkin. Tak lupa aku juga memberikan burung gereja itu sebuah nama, sebuah nama yang sekarang jadi merk minuman teh yang disponsori Sm*sH, nama yang sekarang di pakai tetanggaku untuk menamai anaknya, nama yang akan selalu aku kenang bagi seekor burung gereja yang malang, RIO..
--------
Seminggu sudah Rio bersamaku, dan semakin hari aku semakin sayang sama dia. Ketika aku masuk sekolah, aku pingin-pingin cepet pulang dan bermain bersama Rio. Dan tak heran, selama seminggu itu pula, Rio menjadi temanku satu-satunya yang selalu ada buatku. Tiap aku pulang sekolah, langsung aku menghampiri sarang kerdus Rio, ku buka kerdus itu dan kulihat Rio begitu gembira melihat wajahku yang tampak tak asing baginya. Aku yang sudah menjadi "ibu"nya selama seminggu terakhir :)
--------
Sore itu, aku pergi kerumah kakekku lagi, tak lupa kubawa pula Rio bersamaku.
Aku dan Rio bermain di teras depan rumah kakekku, aku keluarkan Rio dari sarangnya walaupun aku takut kalau nanti Rio bisa terbang lepas meninggalkanku. Namun aku percaya, bahwa Rio tidak akan terbang begitu saja meninggalkanku. Aku letakkan Rio diatas meja.. lalu kemudian aku mundur beberapa langkah menjauhi dia.
Rio terlihat begitu gembira, dia meloncat loncat kecil, seakan berkata bahwa dia telah bebas.
aku yang berjarak 4 sampai 5 langkah dari dia, kemudian mencoba untuk memanggil namanya.
"Rio...." seruku..
"Rio...." seruku lagi..
Rio kemudian menoleh ke arahku, ditatapnya aku dengan wajah yang gembira.
"Rio...." aku berseru lagi...
dan sesuatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, tak pernah aku duga, Rio terbang ke arahku, dengan sayap kecilnya dia mencoba meraihku..
hatiku senang bukan kepalang, ternyata Rio mengenalku, dia tahu siapa aku, dan dia merasakan kehadiranku.
Sungguh hari yang tak akan aku lupakan, ketika seekor burung gereja bisa terbang menghampiri seorang manusia yang selama seminggu menjadi "ibu" nya..
Ku coba meletakkan Rio ke atas meja lagi, dan aku mundur beberapa langkah lagi dari dia..
kucoba kupanggil namanya..
"Rio..."
Rio pun langsung terbang menuju arahku,
tanganku dengan sigap menjadi landasan landing si Rio, aku tak mau Rio terjatuh ke atas ubin :)
Sontak, hal itu membuatku bahagia, aku pun memanggil kakekku, aku ingin memamerkan keahlian si Rio.
Kemudian aku melakukan hal yang sama lagi, ku taruh Rio di atas meja, kupanggil namanya, dan Rio pun terbang menghampiriku.
Kakekku hanya tersenyum, sebuah senyum kecil yang berarti bahwa cucunya ini telah berhasil menjadi "ibu" dari seekor burung gereja malang bernama Rio.
--------
Saking bahagianya, aku pun menelpon ayah dan ibuku dirumah, kuceritakan hal yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dan kemudian aku meminta mereka untuk membelikan sarang baru untuk Rio, merengeklah aku di telpon dan ayahku pun mengiyakan permintaanku, nanti setibaku di rumah, aku akan mendapatkan sangkar burung yang jauh lebih bagus dari sarang kerdus buatanku.
aku sangat gembira,, sangat gembira siang itu..
--------
aku masih bermain dengan Rio, memanggil manggil namanya supaya dia menghampiriku dan terbang ke arahku.
dan kulihat jam menunjukan pukul 3 sore, dan Rio pun juga terlihat sudah lelah terus menerus terbang ke arahku ketika aku memanggil namanya :)
sebelum pulang kerumah, aku memberi Rio makan, seperti biasa, beberapa bulir menir.setelah selesai menyuapi Rio, aku pun memasukan Rio kedalam sarang kerdus buatanku, aku mencoba menyelimuti Rio dengan gombal agar supaya Rio tidak kedinginan ketika nanti tertiup angin pada saat aku menaiki sepeda bututku.
--------
Setibanya dirumah, ayah dan ibuku sudah menungguku dengan membawa sebuah sangkar burung, baru, bagus dan sangat kayu, bukan kerdus seperti yang aku buat.
Ku hampiri mereka berdua, ku ceritakan lagi, apa yang bisa Rio lakukan hari ini.
Tiba saatnya sekarang untuk memindahkan Rio ke sangkar barunya..
aku tahu pasti Rio suka dengan sangkar barunya yang lebih luas dan lebar.
Mulai ku buka kardus tempat Rio biasa tidur, dan perlahan, mulai kusingkap gombal yang biasanya menyelimuti Rio saat malam hari, saat cuaca dingin,
Namun, suara cicitan Rio tak kunjung keluar, aku mulai panik, ku buka gombal itu dengan cepat, dan kulihat Rio sudah terbujur lemas tak berdaya, tak bernyawa.
Ku pegang tubuhnya yang mungil dan sesekali terlintas kenangan indah beberapa jam yang lalu, ketika Rio mengepakkan sayapnya dan terbang untuk pertama kali.
ku lihat semakin dekat,masih tak percaya, tubuh mungil Rio lemas, tidak ada satu ototpun yang kaku, sayapnya yang beberapa jam lalu masih kuat terbang, kini tersungkur lemas tak berdaya.
Aku sedih, sangat sedih, sedih yang sangat mendalam.
tak kukira, aku yang menyelamatkannya, aku yang membuatnya bertahan hidup, aku yang membuatnya terbang pertama kali, dan aku lah yang secara tak sengaja "membunuh" dia.
Rio mati kehabisan oksigen, itulah analisis ayahku..
aku membungkus Rio terlalu rapat, sehingga Rio sendiri tidak bisa bernafas,
seandainya saja, aku tadi mendapatkan sangkar burung lebih dahulu, pasti sekarang Rio masih bisa memamerkan kebolehannya terbang menghampiriku yang memanggil-manggil namanya.
aku masih tidak percaya kalau Rio meninggalkan ku ketika dia baru bisa terbang untuk pertama kalinya.
Tak hentin-hentinya aku menyesali apa yang telah aku perbuat, bagaimanapun juga aku secara tak sengaja membunuh Rio..
Sangkar baru yang seharusnya di isi oleh kepakan sayap Rio, kini hanyalah tinggal sebuah sangkar biasa, karena tidak ada "sesuatu" yang spesial didalamnya..
andai aku bisa memutar balik waktu, aku ingin kembali pada pertama kali aku menemukan Rio.
Aku akan mengembalikan Rio ke sangkarnya, membiarkan dia besar bersama Ibunya yang asli, dan membiarkannya terbang bersama puluhan kawanan burung gereja lainnya..
Tidak seharusnya aku mengambil dan merawatnya..
aku merasa sangat berdosa dan begitu kehilangan..
Selamat jalan Rio,
pasti kau sekarang sedang berada di surga para burung...
dimana ada banyak burung gereja yang cantik yang mengelilingimu..
Rio, sebuah nama untuk burung gereja yang aku sendiri tidak tahu jenis kelaminnya, se ekor burung gereja yang malang, yang jatuh dari pohon ketika masih kecil dan aku asuh selama beberapa waktu, namun kemudian aku secara tidak sengaja "membunuh"nya..


Note :
- Rio adalah hewan peliharaanku yang pertama kali, sejak saat itu sampai saat ini, aku trauma jika harus memelihara burung..
aku lebih memilih mereka bebas, terbang entah kemana, daripada mereka terlihat "bahagia" makan dan minum dalam sangkar...

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar